Prinsip Sejatimu Terungkap Melalui Inkonsistensi
Aku membantu banyak profesional untuk menarik prinsip-prinsip mereka yang tadinya masih hidup secara intuitif.
Tapi kemudian aku sadar bahwa aku juga punya masalah.
Aku tidak tahu apa prinsipku saat menarik prinsip orang lain.
Cara kerjaku sendiri masih intuitif.
Yang aku lakukan biasanya cukup jelas:
melakukan video call
mengidentifikasi ide-ide utama yang mereka sampaikan
melihat bagaimana ide lain menunjang ide utama tersebut
mengajukan pertanyaan yang tepat
meminta klien menjelaskan mekanisme mereka bekerja dan melakukan problem solving
lalu meminta mereka mengartikulaskan prinsip yang mungkin mereka hidupi
Ini sebuah mekanisme yang jelas.
Tapi pertanyaannya:
Apa prinsip utama dari mekanisme ini?
Apa rujukanku ketika “mengajukan pertanyaan yang tepat” untuk mendeteksi apa yang lawan bicara tidak sadari?
Dan kenapa aku tidak bisa begitu percaya ketika lawan bicara mengatakan bahwa mereka memiliki satu prinsip tertentu?
Mengapa aku tidak fokus pada apa yang disampaikan lawan bicara, melainkan bagaimana mereka menyampaikannya dan apa yang mereka sembunyikan?
Mekanisme yang aku tulis tersebut tidak cukup mengulas apa yang membuat pendekatanku berbeda daripada ketika seseorang mencoba mengartikulasikan prinsip mereka sendiri.
Sampai akhirnya, aku melakukan brain dump hingga jam dua pagi untuk menemukan jawabannya:
Prinsip sesungguhnya terungkap melalui inkonsistensi.
Apa yang orang tunjukkan di permukaan biasanya jauh berbeda dengan kebenaran sesungguhnya.
Inkonsistensi itu selalu bocor
Saat aku menjadi mentor beasiswa, aku tahu seseorang sebenarnya tidak percaya diri akan lulus karena ia tampil terlalu “percaya diri” dengan overcompensate.
Misalnya, saat simulasi wawancara beasiswa, dia menyebutkan banyak pencapaian pribadi dan jargon-jargon hebat untuk menutupi kelemahan bahwa dia belum bekerja secara formal di bidang tujuannya.
Atau aku bisa melihat seorang kreator edukasi mengalami imposter syndrome:
menuliskan terlalu banyak kredensial
melakukan framing expert
memakai bahasa terlalu normatif untuk menutupi ketidakpastian
dan terlalu banyak riset untuk legitimasi
Di situ aku belajar:
Yang paling jujur dari seseorang bukan apa yang mereka klaim.
Tapi apa yang bocor lewat inkonsistensi.
Mengapa inkonsistensi mengungkap kebenaran?
Karl Popper mengusulkan sebuah teori bernama falsifikasi: sebuah ilmu hanya bisa disebut ilmu jika bisa dibuktikan salah.
Begitu pula, kebenaran ilmiah tidak dibuktikan dari konsistensi, tapi dari mencari inkonsistensi atau anomali yang bisa memfalsifikasi teori.
Seseorang bisa saja mengatakan prinsipnya adalah “berintegritas” tapi dia melakukan korupsi.
Artinya, “integritas” bukanlah prinsip dia, melainkan branding saja.
Kita tidak bisa mencari prinsip dari apa yang dikatakan seseorang di permukaan.
Karena siapa pun selalu dapat menemukan kepercayaan yang mendukung bias konfirmasi mereka.
Lalu bagaimana menemukan prinsip dari inkonsistensi tersebut?
Jawabannya: dengan menggunakan metode dialektika Hegel dan Marx.
Dalam dialektika, thesis dan antithesis (kontradiksi) adalah yang menghasilkan sintesis (kebenaran lebih tinggi).
Contoh: seorang pendidik percaya bahwa semua murid bisa berhasil.
Tesis:
“Aku percaya setiap murid bisa berhasil kalau diberi dukungan yang tepat.”
Antitesis:
Namun dia menghabiskan 80% waktu dan energi untuk murid yang termotivasi dan responsif. Murid yang paling kesulitan justru mendapat perhatian minimal karena dianggap “tidak memanfaatkan bantuan yang sudah diberikan.”
Sintesis:
Prinsip sebenarnya adalah: “Usaha mengikuti tingkat keterlibatan.”
Semua murid pantas dibantu, tapi investasi waktu dan energi biasanya sebanding dengan kesiapan mereka untuk menerima dukungan.
Prinsip sejati muncul saat ada tegangan
Maka dari itu, ketika seseorang mengatakan mereka punya prinsip aspirasional, aku cenderung skeptis sebelum benar-benar mengujinya.
Karena orang bisa sangat konsisten di self-deception.
Tapi prinsip sejati mereka hanya muncul ketika ada tegangan, trade-offs, dan dua hal yang sama-sama mereka anggap bernilai.
Di situlah prinsip itu keluar.
Prinsipmu hidup di keputusan, bukan di deklarasi
Maka dari itu, dalam artikelku sebelumnya “Thought Leadership dimulai dari Sini”, aku tidak memintamu untuk mengartikulasikan prinsip dari apa yang menjadi aspirasimu.
Aku memintamu melihat 10 keputusan penting yang kamu buat beberapa tahun terakhir dan alternatifnya.
Karena di sana ada alternatif.
Ada trade-offs.
Ada tegangan antara nilai-nilai yang kamu anggap penting.
Kamu harus memilih satu antara thesis dan antithesis.
Di sanalah prinsipmu sesungguhnya hidup.
Bukan di apa yang terdengar bagus, tapi dari apa yang benar-benar menggerakkan keputusanmu, terlepas dari apa yang kamu yakini.
Kata-kata bisa menipu. Tapi tindakan tidak.
Di sini aku mencoba masuk
Untuk membantu seseorang melihat apa yang mereka tidak lihat sebelumnya.
Jadi mereka bisa memilih:
Apakah hendak benar-benar menghidupi prinsip aspirasi mereka, atau mengakui dan mengartikulasi prinsip sejati yang sudah sepenuhnya mereka jalani?
Kamu tentu bisa berusaha menghidupi prinsip aspirasimu.
Tapi mengartikulasikan dan mengakui prinsip sejati adalah yang akan membuatmu benar-benar unggul.
Prinsip sejati membuat semuanya lebih mudah
Prinsip sejati tidak butuh tenaga tambahan.
Itu seperti gravitasi.
Itu sudah menarik tindakanmu ke arah tertentu tanpa harus kamu paksa.
Setiap mengambil keputusan penting, kamu juga dapat melakukannya dengan cepat dan jelas.
Dan kamu bisa membangun otoritas dari sana.
Orang akan percaya pada konsistensi.
Dan kamu dapat mudah konsisten dengan menjalani prinsip sejatimu.
Bahkan meski itu tidak sempurna, paradoxical, dan unpopular.

