Thought Leadership Dimulai dari Sini
Menemukan 3 Level Prinsip Inti Sebelum Investasi Apapun
Kamu tahu Hormozi, GaryVee, atau Naval Ravikant?
Mereka adalah konten kreator besar, dan di saat yang sama, mereka adalah orang-orang yang mengambil keputusan penting di industrinya masing-masing.
Hormozi bukan satu-satunya orang yang ahli strategi bisnis.
GaryVee bukan satu-satunya yang ahli media sosial.
Naval bukan satu-satunya yang ahli di investasi.
Di luar sana, ada banyak orang yang:
lebih teknis,
lebih akademis,
bahkan punya pengalaman jauh lebih panjang.
Tapi kenapa mereka yang diingat?
Bukan karena mereka paling pintar.
Bukan juga karena mereka paling tahu segalanya.
Jawaban singkatnya:
Mereka mampu berpikir jernih dan bertindak secara konsisten.
Dan kemampuan ini tidak muncul karena jam terbang semata.
Kejernihan pikiran dan konsistensi bertindak itu didasari oleh satu hal yang sering diabaikan: kejelasan prinsip-prinsip yang mereka pegang.
Sadar nggak sih, kalau para thought leaders itu hanya punya sekitar 3–5 prinsip inti, tapi prinsip yang sama disampaikan dari ratusan sudut pandang, dalam format yang berbeda-beda, di berbagai konteks?
Karena disampaikan secara berulang-ulang, akhirnya prinsip itu menempel di kepala audiens. Bukan sebagai kutipan, tapi sebagai cara berpikir.
Contohnya, kalau bicara tentang pentingnya kebiasaan kecil, kita akan langsung mengingat James Clear.
Karena memang itu prinsip utamanya.
Dia selalu bicara tentang filosofi 1% better melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang positif.
Dan karena itu diulang terus, audiens bukan hanya tahu, tapi percaya.
Lalu pertanyaannya:
Bisa nggak sih kamu melakukan hal yang sama?
Bisa.
Tapi bukan dengan meniru topiknya.
Dan bukan dengan meniru format kontennya.
Kamu harus mulai dari pertanyaan yang jauh lebih mendasar:
Apa yang sebenarnya memandu kamu dalam mengambil keputusanmu sendiri?
Karena di situlah prinsip hidupmu berada.
Kalau jawabanmu masih seperti ini:
“Tergantung konteks dan situasinya.”
Itu tanda bahwa prinsipmu masih hidup di intuisi, bukan di kata-kata.
Dan selama prinsip itu masih hidup di intuisi:
ia tidak bisa diskalakan,
tidak bisa dijadikan intellectual property,
dan tidak akan menempel di kepala audiens.
Karena audiens tidak bisa mengingat sesuatu yang bahkan belum kamu artikulasikan.
Akibatnya, kamu akan tenggelam bersama jutaan konten kreator lain yang:
rajin,
pintar,
berpengalaman,
tapi tidak tahu apa prinsip inti yang sebenarnya mereka bawa.
Ini yang aku notice dari banyak konten kreator yang sebenarnya ahli dan praktisi berpengalaman di bidangnya masing-masing.
Mereka memberikan banyak:
strategi,
taktik,
langkah-langkah,
tips cara melakukan sesuatu.
Kontennya “berguna”.
Tapi cepat basi.
Karena satu hal yang jarang, bahkan hampir tidak pernah, diartikulasikan adalah ini:
Apa prinsip yang mendasari mereka melakukan langkah-langkah itu sejak awal?
URGENSI PRINSIP + PRINSIP vs TAKTIK vs OPINI
Mengetahui prinsip inti sangatlah urgen, khususnya jika kamu adalah orang yang sering mengambil keputusan penting.
Tanpa prinsip yang jelas, setiap keputusan terasa seperti:
trial and error,
tarik-ulur intuisi,
atau sekadar reaksi terhadap keadaan.
Dengan prinsip yang jelas, keputusan terasa:
Lebih jelas
lebih konsisten,
dan lebih bisa dipertanggungjawabkan pada diri sendiri.
Dan ini adalah fondasi.
Akar.
Bahkan sebelum kamu:
mencoba membuat konten,
membangun personal branding,
mendapatkan trust dari orang lain,
atau melakukan sales.
Itulah kenapa aku selalu menyarankan:
kasih waktu dirimu sungguh-sungguh untuk ini sebelum kamu serius membangun personal branding.
Pertanyaan selanjutnya,
apa bedanya prinsip dengan konten pada umumnya?
Konten pada umumnya seringkali bersifat taktik atau opini.
Dan itu berbeda.
TAKTIK:
“Posting LinkedIn jam 8 pagi”
→ Aksi spesifik, sangat tergantung konteks, platform, dan fase audiens.
Taktik bisa bekerja hari ini,
dan gagal total enam bulan ke depan.
OPINI:
“LinkedIn lebih bagus dari Twitter”
→ Preferensi pribadi, subjektif, dan sering kali dipengaruhi pengalaman terbatas.
Opini bisa memancing diskusi,
tapi jarang membangun fondasi jangka panjang.
PRINSIP:
“Distribusi mengikuti resonansi, bukan volume”
→ Kebenaran mendasar yang bisa diterapkan lintas konteks.
Prinsip tidak peduli:
platform apa yang kamu pakai,
algoritma berubah atau tidak,
tren sedang naik atau turun.
Ia tetap relevan.
Masalahnya, banyak kreator:
mengira taktik adalah prinsip,
mengira opini adalah insight,
lalu heran kenapa audiens tidak pernah benar-benar “nempel”.
Karena yang menempel di kepala orang bukan apa yang kamu lakukan,
tapi cara berpikirmu saat melakukan itu.
Dan cara berpikir itu hanya bisa ditransfer lewat prinsip.
Dan untuk itu, kamu perlu memahami 3 level prinsip yang bekerja secara hierarkis.
LEVEL 1 — PRINSIP DASAR
(Pandangan dunia terdalam)
Kita mulai dari prinsip paling fundamental: prinsip dasar.
Prinsip dasar bukan tentang pekerjaan.
Bukan tentang konten.
Bukan tentang positioning.
Ia adalah cara kamu memandang hidup, bahkan sebelum kamu memilih profesi apa pun.
Cara paling sederhana untuk menemukannya adalah dengan melihat keputusan-keputusan penting yang sudah kamu ambil, bukan yang kamu rencanakan, tapi yang benar-benar kamu sudah lakukan.
Latihannya seperti ini:
Catat 10 keputusan penting dalam hidup yang kamu ambil dalam 2 tahun terakhir.
Untuk tiap keputusan, jawab empat pertanyaan ini:
Apa keputusan kamu?
Apa alternatifnya?
Kenapa memilih ini?
Prinsip apa yang mendasarinya?
Contoh jawabanku:
Apa keputusan kamu?
Memutuskan tidak mencari pekerjaan tetap (bahkan sempat ditawarkan menjadi staf menteri) demi menjadi konten kreator.Apa alternatifnya?
Punya pekerjaan bergengsi dan stabil.Kenapa memilih ini?
Aku tidak suka melakukan pekerjaan yang jamnya diatur oleh orang lain.
Dan aku ingin die with zero, di mana ilmuku telah habis dibagikan kepada orang-orang.Prinsip apa yang mendasarinya?
Memegang remote control hidup lebih penting daripada status dan keamanan finansial.
Setelah kamu mengaudit 10 keputusan itu, lanjutkan dengan dua pertanyaan reflektif ini:
Dari semua keputusan tersebut, mana yang paling sulit diambil?
Yang sampai sekarang masih terasa “berat” saat mengingatnya?Dan sebaliknya, mana yang paling mudah?
Yang bahkan rasanya bukan keputusan, karena seperti hanya ada satu pilihan?
Dalam kasusku, keputusan-keputusan yang paling mudah selalu berakar pada prinsip yang sama.
Prinsip dasarku adalah autonomy.
Aku menolak pekerjaan tetap yang bergengsi dan stabil, bahkan saat ditawari jadi staf menteri, demi menjadi konten kreator.
Buatku, itu bukan pengorbanan besar.
Itu terasa jelas.
“Aku bisa mati miskin, aku bisa gagal, aku bisa dilupakan—selama itu karena keputusanku sendiri. Yang tidak bisa aku terima adalah hidup sesuai remote control orang lain.”
Sementara itu, keputusan yang paling sulit sering memperlihatkan harga dari prinsip dasar itu sendiri.
Aku sadar aku punya ego yang besar.
Aku merasa aku pintar, punya skill, dan deserve better.
Tapi aku juga punya disiplin yang brutal untuk membunuh ego kalau itu menghalangiku mendapatkan autonomy.
Bukan berarti aku tidak punya ego.
Lebih tepatnya: aku siap melempar egoku ke laut kalau itu menghalangi kebebasanku.
Kalau kamu ingin menghemat waktu dan mempercepat proses refleksi ini, kamu bisa memanfaatkan AI, seperti ChatGPT, Claude, atau Gemini.
Aku pribadi paling suka Claude Pro, karena lebih tajam secara analisis ketika diajak debat. Mintalah dia menganalisis core principles dari hasil audit keputusan yang sudah kamu tulis.
Dan jika prinsip yang ditarik masih belum terasa resonan, minta dia jangan buru-buru menyimpulkan. Sebaliknya, minta dia mengajukan beberapa pertanyaan lanjutan sampai akhirnya muncul prinsip dasar yang sebelumnya tidak kamu sadari tapi terasa hingga ke tulang.
Prinsip paling penting bukan yang paling mudah kamu ucapkan,
tapi yang paling kamu pertahankan lewat tindakan.
LEVEL 2 — PRINSIP DOMAIN
(Prinsip spesifik di bidang yang kamu geluti)
Kalau prinsip dasar adalah pandangan dunia terdalam,
maka prinsip domain adalah cara pandangmu di bidang atau pekerjaan yang kamu tekuni.
Ini adalah prinsip yang menjelaskan kenapa pendekatanmu berbeda,
bukan sekadar apa yang kamu lakukan.
Perbedaan pentingnya di sini adalah:
Prinsip dasar → menjelaskan cara kamu hidup
Prinsip domain → menjelaskan cara kamu bekerja dan berpikir di satu bidang
Dan cara paling jelas untuk menemukan prinsip domain adalah dengan mengidentifikasi posisi kontra-arus yang kamu ambil—sadar atau tidak.
Aku menyebutnya:
POSISI CONTRARIAN AUDIT
Latihannya seperti ini:
Conventional wisdom:
Bagaimana pendekatanku berbeda:
Kenapa conventional gagal:
Kenapa pendekatanku lebih efektif:
Prinsip di baliknya:
Ulangi audit ini untuk 5–7 conventional wisdom yang umum di bidangmu.
Ini contoh yang aku buat:
CONTOH — POSISI CONTRARIAN AUDIT
Conventional wisdom:
Jadikan dirimu selalu berguna dan bermanfaat bagi orang lain, tanpa henti.Pendekatanku berbeda:
Jadikan dirimu (eventually) tidak berguna.Kenapa conventional gagal:
Banyak kreator memberi nasihat seperti “Langkah-langkah Hidup Sehat” atau “Strategi Turun Berat Badan”, tapi tidak pernah menjelaskan prinsip yang mendasari kenapa langkah-langkah itu perlu diambil.
Audiens akhirnya:selalu tergantung pada kreator untuk “kebenaran”,
tidak mampu menilai dan memutuskan sendiri,
dan harus kembali lagi untuk bertanya.
Sang kreator memang terus “berguna”, tapi dia mengunci audiens dalam ketergantungan. Dalam jangka panjang, ini menghancurkan trust dan otoritas.
Kenapa pendekatanku lebih efektif:
Ketika aku tidak gatekeep informasi paling penting, audiens mampu:berpikir sendiri,
menilai situasi mereka sendiri,
dan mengambil keputusan tanpa bergantung padaku.
Prinsip yang aku ajarkan tidak berhenti sebagai konten— ia hidup sebagai cara berpikir di kepala mereka. Transformasi yang terjadi tanpa kehadiranku justru memperkuat otoritasku.
Lalu muncul pertanyaan yang mungkin hadir dalam kepalamu:
“Kalau kamu bikin audiens mandiri, mereka nggak beli produkmu dong?”
Jawabannya simpel:
Pertama, jika aku benar-benar seorang expert, aku tidak akan kehabisan value. Akan selalu ada kedalaman baru yang bukan sekadar mengulang informasi lama.
Kedua, audiens datang lagi bukan untuk mencari informasi, tapi untuk mengakses cara berpikir, judgement, dan pendekatanku terhadap kehidupan. Dan untuk itu, mereka bersedia membeli akses kepadaku.
Prinsip di baliknya:
Transfer cara berpikir, bukan transfer hasil pemikiran.
Aku ulangi audit posisi kontrarian ini 5-7 kali. Dan akhirnya menemukan prinsip domain-ku yaitu: high-agency.
Dan ternyata aku sadar bahwa prinsip domainku tidak berdiri sendiri,
Memberikan agency berarti:
memberi audiens alat untuk menilai situasi sendiri,
membuat keputusan berdasarkan konteks mereka,
dan bertindak dengan conviction, bukan sekadar ikut-ikutan.
Prinsip domain ini nyambung langsung dengan prinsip dasarku: autonomy.
Dan ketika kamu memberi seseorang agency,
kamu sebenarnya sedang menghormati otonomi mereka sebagai individu.
Karena itu, prinsip dasar selalu terhubung dengan prinsip domain.
Yang satu adalah akar.
Yang lain adalah cabangnya.
LEVEL 3 — PRINSIP OPERASIONAL
(Panduan eksekusi sehari-hari)
Kalau prinsip dasar adalah cara kamu memandang hidup,
dan prinsip domain adalah cara kamu berpikir di bidangmu,
maka prinsip operasional adalah cara kamu bekerja setiap hari.
Ini bukan taktik.
Tapi juga bukan filosofi abstrak.
Prinsip operasional adalah aturan main pribadi yang kamu pakai secara konsisten, sadar atau tidak.
Ia lebih konkret dari prinsip domain,
tapi masih lebih tinggi dari sekadar langkah teknis.
Dalam kasusku:
Prinsip Dasar:
“Otonomi di atas segalanya”Prinsip Domain:
“Transfer cara berpikir untuk meningkatkan agency”Prinsip Operasional:
…akan kita turunkan sekarang.
Cara menemukannya adalah dengan melihat pola perilaku kerja, bukan niat baik.
Jawab 5 pertanyaan ini dengan jujur:
Aturan kerja apa yang hampir tidak pernah kamu langgar?
Kalau ada orang melihat cara kerjamu, apa yang paling “aneh” atau berbeda?
Apa proses tetap yang kamu pakai untuk tugas berulang?
Kapan kamu paling sering bilang “tidak”? Apa polanya?
Tools atau sistem apa yang kamu tidak bisa kerja tanpa itu? Kenapa?
Berikut adalah contoh jawabanku:
Aturan kerja apa yang hampir tidak pernah kamu langgar?
(“Jika aku menulis pekerjaan penting di malam hari, aku akan melakukannya keesokan hari.”)Kalau ada orang melihat cara kerjamu, apa yang paling ‘aneh’ atau berbeda?
(“Di antara sesi kerja, aku suka duduk melamun menatap taman di depan rumah untuk memberi ruang kognitif sebelum lanjut.”)Apa proses tetap yang kamu pakai untuk tugas berulang?
(Karena aku tidak suka tugas repetitif, aku selalu menuliskannya dengan intensi ‘aku memilih’, supaya tidak terasa terpaksa.)Kapan kamu paling sering bilang ‘tidak’? Apa polanya?
(Aku sering menolak endorsement. Meski punya 100k+ followers, aku hanya menerima 1 endorsement per tahun.)Tools atau sistem apa yang kamu tidak bisa kerja tanpa itu? Dan kenapa?
(Aku menggunakan Notion sebagai second brain, supaya working memory-ku bebas untuk berpikir.)
Ketika aku menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, aku menemukan bahwa prinsip operasionalku adalah: “Protect the space to choose.”
Setiap sistem kerja, setiap keputusan, setiap ritual, semuanya dirancang untuk menjaga ruang kognitif dan emosional agar aku tetap bisa memilih dengan sadar, bukan bereaksi.
Dan ini nyambung lagi ke hal yang sama.
High-agency.
Autonomy.
Prinsip operasional bukan berdiri sendiri.
Ia adalah bentuk paling konkret dari prinsip dasar yang sama, hanya dalam bahasa tindakan.
Kalau aku menjaga ruang untuk memilih,
aku menjaga otonomiku.
MENGULANG 3 HIERARKI PRINSIP
Sekarang kita rangkum kembali:
LEVEL 1 — PRINSIP DASAR (1–2)
Pandangan dunia terdalam
Caranya:
Catat 10 keputusan penting dalam hidup yang kamu ambil dalam 2 tahun terakhir.
Untuk tiap keputusan:
Apa keputusannya?
Apa alternatifnya?
Kenapa memilih ini?
Prinsip apa yang mendasarinya?
Tentukan mana keputusan yang paling sulit diambil dan mana yang paling mudah?
LEVEL 2 — PRINSIP DOMAIN (3–5)
Caranya:
Lakukan POSISI CONTRARIAN AUDIT sebanyak 5 kali.
Conventional wisdom
Pendekatanmu berbeda
Kenapa conventional gagal
Kenapa pendekatanmu works
Prinsip di baliknya
LEVEL 3 — PRINSIP OPERASIONAL (5–10)
Panduan eksekusi sehari-hari
Caranya jawab 5 pertanyaan ini dengan jujur:
Aturan kerja apa yang hampir tidak pernah kamu langgar?
Kalau ada orang melihat cara kerjamu, apa yang paling “aneh” atau berbeda?
Apa proses tetap yang kamu pakai untuk tugas berulang?
Kapan kamu paling sering bilang “tidak”? Apa polanya?
Tools atau sistem apa yang kamu tidak bisa kerja tanpa itu? Kenapa?
Penutup
Framework ini bisa dibilang merupakan “taktik" untuk mengekstraksi prinsip yang abstrak. Namun, pada intinya, kamu perlu secara aktif mengaudit dirimu sendiri.
Setelah mengerjakan semua latihan ini, kamu mungkin akan merasa:
bingung,
chaos,
Dan itu justru tanda yang bagus.
Sebagaimana otot harus terasa sakit sebelum akhirnya menjadi lebih kuat,
kejelasan hampir selalu didahului oleh kebingungan.
Pada akhirnya, kamu akan mendapatkan:
landasan hidup yang lebih fundamental,
prinsip domain yang bisa ditransfer,
dan prinsip operasional yang membimbing tindakan sehari-hari.
Dan ini bisa jadi adalah hal paling penting yang kamu artikulasikan
sebelum kamu membangun personal brand,
membuat konten,
atau mencoba menjual produk apa pun.
Dan yang paling penting:
Kamu tidak perlu menjadi the next Hormozi.
Bukan the next GaryVee.
Bukan the next Naval Ravikant.
You will just be WHO YOU ARE.
Dan ketika kamu membuat konten dan membangun personal branding dari unshakable core-mu, otoritas tidak perlu dikejar.
Ia akan mengikuti dengan sendirinya.

