Selama empat tahun terakhir, keunggulanku sangat bergantung pada kecerdasan yang kumiliki. Mulai dari review esai, memberikan insight tentang sekolah pascasarjana, dan lain sebagainya.
Namun, saat AI hadir, kecerdasan ini menjadi murah.
Dulu, banyak mentee di Instagram meminta bantuanku untuk review esai pascasarjana. Minimal, aku menolak tiga permintaan review setiap hari.
Tapi permintaan itu langsung berhenti semenjak ChatGPT hadir pertama kali.
Saat AI hadir, menteeku cukup memasukkan prompt “Review esai ini”. Hasilnya pun keluar dalam beberapa detik.
Di saat waktuku longgar, aku pun menawarkan review 100 esai secara gratis.
Karena esai yang akan aku review ini banyak dan aku melakukannya secara gratis, kupikir menggunakan bantuan AI juga tidak ada masalah.
Toh, AI bisa review satu esai dalam beberapa detik.
Namun, saat aku memulai review ratusan esai tersebut, aku baru sadar di sekitar esai ke-20.
Pekerjaanku tidak hilang.
Itu pindah ke evaluasi!
Aku panik.
Ada ratusan esai, dan aku kewalahan menyelesaikannya tepat waktu.
Bahkan, dengan AI, pekerjaanku jadi lebih berat dan lebih lama.
Tanpa AI: Aku membaca esai → langsung memberikan masukan.
Dengan AI: Aku baca esainya → kemudian baca masukan AI → evaluasi masukan AI mana yang masuk akal → sesuaikan dengan insight sebelumnya yang telah aku miliki → dan tentukan masukan mana yang akan kusampaikan pada mentee.
Evaluasi kini menjadi pekerjaan utama, dengan tuntutan kognitif dan abstraksi yang lebih tinggi.
Dalam melakukan evaluasi itu, aku pun melihat beberapa hal ini menjadi langka dan mahal:
Trust, orientation, judgement, taste, human experience, access to reality, accountability.
AI mungkin memperbaiki tulisanmu dan menjadikannya lebih rapi.
Tapi ia tidak bisa memperbaiki argumen yang salah arah.
Misal, seseorang menulis esai tentang keinginannya menyelesaikan masalah “pengangguran tinggi.” Kemudian, ia membahasnya dari berbagai macam perspektif, mulai dari sudut pandang ekonomi, pendidikan, kewirausahaan, dan sebagainya.
Yang mungkin tidak disadari penulis, esai itu tak punya pondasi satu masalah yang spesifik untuk diselesaikan.
Ia hanya berwacana, melompat-lompat di permukaan dengan bahasa yang keren, tanpa ada alasan kenapa panelis beasiswa perlu memberikan investasi kepada penulis tersebut.
Setelah aku menjelaskan fenomena ini, permintaan review esai kembali banyak lagi. Tapi aku berhenti menerima permintaan review karena telah berganti niche di Instagram.
Sebelumnya adalah niche-ku adalah beasiswa pascasarjana, sekarang executive writing.
Demi bisa tetap membantu banyak followers di niche beasiswa, aku pun mengeluarkan cara berpikirku saat review esai LPDP ke dalam sebuah prompt ChatGPT.
Kalau rata-rata orang akan menulis prompt “Review esai ini” saja, pengalamanku bertahun-tahun menjadikan prompt-nya harus ditulis dalam tujuh halaman Google Docs dengan huruf kecil.
Bisa ditemukan di sini:
https://drive.google.com/drive/folders/1kyYS0KwU8B_4PDAk8jcwrHsSEFA_ZANR?usp=sharing
Yes, aku bocorkan seluruh cara berpikirku empat tahun review esai ke dalam prompt ChatGPT.
Tapi bukan berarti aku langsung digantikan oleh AI.
AI mungkin merespons prompt panjang itu dengan sangat baik, tapi orang lain tidak tahu prompt lain yang akan gunakan untuk tugas berbeda.
Karena setiap penulisan prompt tergantung dari konteks yang aku miliki, realitas yang aku alami, dan intuisi yang tidak serta merta dimiliki oleh orang lain.
Kembali lagi, di saat kecerdasan murah, yang mahal adalah...
Trust, orientation, judgement, taste, human experience, access to reality, accountability.

